Log 003. Standby!


“......Aaaaa” semua bayangan itu lenyap.. berganti pemandangan indah matahari terbit tepat didepanku menyapa ramah seolah mengucapkan selamat pagi dengan sinarnya yang hangat dan masih malu-malu muncul

“... mimpi...?”aku melihat kedua tanganku, lalu kedua kakiku.. oke rasanya tadi hanya mimpi, tapi aku merasa kakiku benar-benar susah digerakkan.. keduanya terasa sangat berat... tunggu dulu aku melihat Orville menggunakan kedua kakiku sebagai alas kepalanya saat tidur, mungkin karena itulah aku mendapat mimpi buruk, “dasar anak menyebalkan!!” umpaku dalam hati sambil menyingkirkan kepalanya dari kedua kakiku secara berlahan.

Setelah misi menyingkirkan kepala Orville dengan dengkurannya yang sepulas Hippo-Afrika dari kakiku selesai, aku melihat sekelilingku, semuanya masih tertidur pulas, tidak terkecuali Ibu Erico. Aku tersenyum melihatnya, bagaimanapun tegarnya Guru kami itu, dia hanyalah manusia biasa yang tetap membutuhkan istirahat

Aku berdiri dan merenggangkan badanku, menggeliat seperti cacing lalu memeriksa keadaan sekitar sekaligus mencari sesuatu yang mungkin bisa dimakan, bagaimanapun kami cuma orang biasa yang bisa lapar. Beruntung aku bisa menemukan beberapa dedaunan yang sepertinya bisa dimakan warnanya hijau dengan ukuran daun tidak sebesar daun bayam, dan tidak memiliki bulu

“hem.. sepertinya ini cukup...” aku berbicara lirih kepada diriku sendiri dan bergegas kembali ketempat para teman clubku tidur, di tengah perjalanan aku sempat menemukan beberapa buah tomat yang tumbuh liar dan memetik beberapa darinya. Dengan segera aku membuat api kecil dari percikan bunga api yang kubuat dari gesekan battrei senterku dan memasak beberapa barang temuanku menggunakan panci dan beberapa bumbu yang berhasil selamat dari tindihan pohon bersama sisa air mineral Ricchi

“hem.. bau apa ini...” sepertinya satu dari temanku terbangun karena mencium bau sup yang baru saja aku buat

“Oh pagi hana” kataku datar dengan terus mengaduk sup-entahlah di depanku menggunakan sebatang kayu

“Pagi..huamm.... Mac....” katanya dengan mengucek mata, masih diiringi dengan suara dengkuran keras Orville

“Mmm.. pa..gi~” diikuti sapaan khas Rose menyahuti suara Hana memecah hening pagi

“pagi rose”

“Apa yang kamu lakukan Mac?” Hana bertanya sambil berjalan mndekatiku

“Sesuatu” jawabku singkat dan datar, sementara tanganku terus mengaduk 'sesuatu' yang berada di depanku. “Bangunkan yang lain, sup ini sebentar lagi matang”

“Em baiklah” Balasnya singkat, tepat bersamaan dengan mengecilnya api yang aku gunakan untuk memasak karena kehabisan kayu untuk dilahapnya

“Ok sudah matang” kataku lirih, lalu menuang sedikit ke sebuah gelas aluminium

“Sudah matang?”

“Sudah bu, kalo ibu mau makan, silahkan ambil sendiri”

“Oke!” Bu Eri berjingkrak seperti anak kecil mendekati panci sup diikuti Hana da Rose lalu Ricchie dan Orville

“Selamat makan” Orville beteriak lantang ketika hendak menyantap sup-tomat-entahlah yang berada di depannya.

“Yuck!” Ricchi meyemburkan sup yang baru saja masuk ke mulutnya segera setelah sendok masuk ke mulutnya “sup apa ini, rasaya aneh”

“Uweee~” Rose bergidik setelah mencicipi sup buatanku yang terhidang di mangkuknya

“Ayolah sup buatanku tidak separah itu kan?”

“Tidak enak, dimana kamu belajar memasak Mac?” Bu Eri juga ikut-ikutan mengkritik masakanku

“Setidaknya sup ini masih bisa dimakan, meski rasanya...emm... unik...”Hana mencoba membelaku

“....Trims hana...” kataku lirih dengan tangisan hati, melihat Hana memakan sup buatanku dengan wajah penuh derita, seakan baru saja dirinya disiksa sipir penjara bawahan Adolf Hitler dengan kumis-pelawak-berselera-rendahya yang aneh

“Memangnya lidahmu mati ya?!” Ricchi menyindirku

“Mungkin saja..? tapi lebih baik daripada tidak bisa melakukan apa-apa!” balasku dengan sindiran dingin

“Kamu nantang berkelahi yah!”

“Boleh”, sedetik kemudian sebuah bogem mendarat di masing-masing kepala kami

“Cukup disitu debat masakan ini”

“Ibu.. Eri...” aku memandang guru wanita perkasa itu sambil mengelus kepalaku yang kesakitan

“Baik bu....” Ricchi melakukan hal yang sama seperti yang barusaja aku lakukan, mengelus kepalanya seakan ada benjolan sebesar kepalan tangan tumbuh disana

“Aku sudah selesai makan bu” Hana berdiri setelah menghabiskan sup dimangkuknya dengan terburu-buru ke belakang seperti hendak muntah

“Oh iya Hana, bisa mengepak isi tasku yang berhamburan?” teriakku kepadanya sebelum dia berlalu dari formasi-makan-melingkar kami, Hana hanya mengangguk kecil

Setelah sup dimangkukku habis aku beranjak dari formasi-makan-melingkar dan menuju tas puggungku tergeletak, disana aku melihat Hana mencoba mengikatkan sabuk tasku

“Terima kasih sudah membantuku mengepak tas punggungku kembali”

“Tidak apa-apa”

“......” aku terdiam di hadapan teman kecilku itu

“Emm....”

“Ya...?”

“Sepertinya tidak jadi...” sahutnya pelan dengan senyum memaksa menghiasi wajahnya

“Jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja”

“......” Hana terdiam sesaat “Semalam kamu meneriakkan namaku keras sekali...”

“......” aku terdiam mendengarnya

“.....Apa maksudmu huh?”

“Err....aku hanya...”

“Hanya...?”

“Err... makanya.. aku pikir.....” sial aku malu sekali, mungkin wajahku sekarang semerah buah tomat

“.... Batang pohon besar itu menindihku..?” tebak Hana menyambung jawabanku, dan kujawab dengan anggukan kecil

“.......” kami berdua terdiam dengan wajah semerah tomat masak

“Jadi kamu menghawatirkanku..Macclyne...?”

Kujawab pertanyaan lirihnya dengan anggukan pelan, ahh.. jika kucelupkan wajahku ke sekolam air pasti airnya akan segera menguap “Ww...wajar saja kan....”

“Maksudmu...?”

“Kamu adalah teman dekatku sejak kecil, jadi sewajarnya aku menghawatirkanmu” ahhh... wajahku panas sekali otot pipiku serasa tertarik terus

“Terima kasih...”

“Eh....?”

“Seperti dua tahun yang lalu ya...”

“Dua tahun yang.. lalu..?”

“Iya.. saat kamu menc....”

“Jangan teruskan... aku tidak ingin mengingatnya lagi...” memndadak kemarahan meliputi otakku, membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu

“Maaf Mac...”

“Jangan pernah membawa masalah itu kembali” sahutku dingin

“Tapi.. Mac... aku benar-benar....”

“HANA!!...” aku berteriak didepannya “...tolong...”

“...Bbbb...baiklah.... jika itu keinginanmu Mac...”


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” mendadak Orville muncul di tengah-tengah kami

“Wuaa...” teriakku panik

“Aa..Appa..apa yang kamu lakukan disini Orville?”

“Eh..? aku?” katanya dengan menuding hidungnya sendiri dengan telunjuknya, aku dan Hana mengangguk kecil

“Karena aku sudah selesai menghabiskan sup 'aneh' buatanmu, Ibu Eri memintaku membangunkan Ann, sesaat kemudian aku melihat kalian berdua seperti berbicara serius”

“Oh.. tidak ada apa-apa kok, iya kan Mac?!” Ana memandangku dengan mengkerdipkan sebelah matanya cepat “Kalau begitu biar aku saja yang membangunkan Ann”

“Bagus deh kalau begitu” kemudian Orville tertawa pergi diiringi dengus berat nafas yang kukeluarkan dari mulutku


“Lama sekali Hana membangunkan Ann..” aku berbicara sendiri begitu melihat jarum jamku menunjukkan lima menit setelah Hana pergi meninggalkanku berdua dengan Orville yang kemudian juga meninggalkanku bersama tas punggungku, apakah sangat susah sekali membangunkan seorang cewek yang tertidur, pikirku sambil berjalan kearah kawasan tempat kami terpaksa-tidur tadi malam

“Ann...” Hana menggoncang-goncangkan badan Ann dengan kuat, tapi gadis dedepannya masih saja tetap tidak membuka matanya

“Memangnya menbangunkan Ann itu susah sekali yah?”

“Mac... Ann tidak mau bangun” dari wajahnya tergambar kepanikan yang luar biasa, seperti hendak menangis “sepertinya dia sakit”

Aku tertawa mendengarnya “mungkin Ann minta dibangunkan dengan cara yang halus” aku mendekati tubuh Ann dan memegang lengan Ann, tunggu... ada yang salah... tangan Ann sangat dingin

“Bagaimana Mac?” Hana berdiri di belakangku dengan cemas

“Kamu benar, sepertinya dia sakit” aku melihat Hana mulai panik “cepat panggil Bu Eri”

“Bb..bbaik..” jawab Hana segera, kemudian berlari menghilang dibalik jalan setapak diantara semak

“Ann..” aku melakukan hal yang sama seperti yang tadi Hana lakukan, tangannya dingin seakan panas tubuh meninggalkan badannya untuk pergi tamasya ke keningnya, aku menggosok-gosok tangannya dengan kedua telapak tanganku berharap, sebagian panas badanku bisa menghangatkan tangannya yang dingin

Sementara panas di keningnya tidak berkurang juga, aku mengeluarkan botol minum kecil dari saku celana, dan membasahi handuk kecil milikku dengan air di dalamnya kemudian meletakkannya di kening Ann, mungkin bisa membantu sedikit mengurangi panasnya

Kemudian Bu Eri datang bersama temanku yang lain

“Bagaimana keadaannya Mac?”Ibu Eri bertanya kepadaku

“Entahlah bu, sepertinya dia demam” jawabku sekenanya

“Kita harus segera mencari pemukiman penduduk untuk meminta pertolongan”

“Oh iya, tempelkan ini di kening Ann~” Rose menyodorkan sesuatu

“Apa ini?” Tanyaku ssambil menempelkan plester pemberian Rose ke kening Ann seperti perintahnya

“Plester untuk kompres~” katanya pelan dengan senyum diwajahnya “Ibu Rose selalu menyuruh rose untuk selalu membawa peralatan P3K kemana saja Rose pergi~”

“Ayo kita pergi! Mac, kamu gendong Ann sementara Ricchi membawa tas Ann”

“Kenapa harus saya Bu Eri?” Ricchi mencoba protes mendengar perintah Ibu Eri

“Mana rasa kerjasama timmu Ricchi?”

“Baiklah..”


Kami meninggalkan area lapangan menuju sebuah jalan yang sepertinya, akan menuju ke daerah pemukiman penduduk