Log 002. Dream or...
Kami menuruni bukit atau apalah itu, tempat kami mendirikan dome melewati setapak penuh tanaman liar menuju tempat seperti lahan pertanian yang Hana ceritakan sebelumnya. Setelah menempuh perjalanan bersama yang cukup tidak nyaman karena pertengkaran Orville dan Ann karena hal yang tidak jelas kami sampai di sebuah lahan tanpa adanya pepohonan, benar-benar lapangan terbuka
“Sudah sampai bu, inilah tempatnya”
“Hem... aneh..”
“Aneh kenapa bu Eri?”
“Seingat ibu, ibu sudah menjelajahi daerah sekitar dome tapi tidak terlihat adanya tempat seperti ini”
“Ibu pasti belum mencari sampai kemari”
“Mungkin saja, tapi...”
“Tapi apa bu Eri~?”
“Tidak.. tidak ada apa-apa kok Rose..” Ibu Eri tersenyum seolah berusaha menyingkirkan rasa khawatir dari muka-muka khawatir yang berada di depannya, “ok... kalian bisa melanjutkan istirahat kalian di sini, sementara ibu berjaga-jaga”
“Eh?!? tidur di sini?? tanpa alas??” Ricchie protes mendengar perintah bu Eri
“KAMU PROTESS ?!!”
“Ttt..tidak bu...”
Melihat wajah bu Eri saat itu, sama takutnya dengan berdiri di depan harimau kalimantan yang kelaparan dan siap menyantapmu seperti sushi, dan tak berapa lama dengkuran pun mengalun dari mulut Orville yang tertidur diikuti mata terpejam temanku yang lain.
Aku berusaha memejamkan mata dan tertidur, akan tetapi tetap saja aku terjaga, apalagi di tambah mengingat beberapa kejadian yang baru saja aku alami, membuatku semakin tidak bisa memejamkan mata.
“Mac, kamu masih terbangun kan?” sepertinya bu Eri tahu kalau aku hanya berpura-pura memejamkan mata
“Ada apa bu?”
“Tidak ada apa-apa....”
“.....” kami berdua terdiam
“...Bu Eri...”
“Ada apa Mac?”
“Bu Eri tadi sepertinya hendak mengatakan sesuatu...”
“Apa maksudmu?”
“Mengenai penjelajahan rahasia yang ibu lakukan seorang diri saat kami mendirikan dome”
“.....” Bu Eri hanya terdiam
“..Bu Eri...”
“..Baiklah akan ibu ceritakan... tapi rahasiakan dari yang lainnya..” Akhirnya bu Eri membuka mulutnya setelah terdiam beberapa saat, “kamu tahu Mac..? sebenarnya ibu sudah merasa merasa aneh mengenai jalan setapak yang baru saja kita lewati...”
“Memangnya kenapa bu??”
“....Sore saat ibu berkeliling mencoba melihat-lihat keadaan, jalan itu tidak ada....mmm.... maksud ibu.. ibu tidak melihat adanya jalan itu saat ibu berkeliling, padahal jalan itu ada tidak jauh dari kawasan kita mendirikan dome”
“Ha..?”
“Bahkan saat kita berjalan melewatinya ibu merasa diawasi”
“Ah benar juga... itu mengingatkan saya akan sesuatu bu Eri..”
“Saat melewati jalan tersebut saya mendengar suara logam bergesekan.. meski pelan, tapi saya yakin itu adalah suara logam...dan lagi saya menemukan ini..”aku menyerahkan selembar daun ke tangan bu Eri
“Daun???”
“Iya daun... tapi bukan daunnya yang saya maksudkan!!”
“Memangnya ada apa dengan daun ini?”
“Coba ibu raba sekitar daun itu”
Bu Eri melakukan seperti apa yang aku katakan “serbuk??”
“Bukan serbuk biasa” aku mengambil senter kecil yang ada di saku celanaku “lihatlah lebih jelas bu Eri”
“Eh... ini seperti...”
“..Karat logam...”
“Bagaimana serbuk karat logam bisa berada di daun??”
“Saya sendiri bingung.... dan dari sepengetahuan saya, hampir semua daun di jalan setapak tadi seperti ini..”
“Oh iya... omong-omong... ini daun apa??”
“Loh bukannya anda yang lebih tau?? anda kan seorang guru”
“Guru bukan ensiklopedia MAC!!” sebuah bogem mendarat di atas kepalaku
“Ouch..!” aku mengelus kepalaku “Entahlah, saya belum pernah melihat daun seperti ini sebelumnya”
“Ibu juga belum pernah melihatnya, bahkan dari semua buku yang pernah ibu baca, ibu belum pernah melihat bentuk daun seperti ini”
“.....” kemudian kami terdiam lagi
“Sepertinya pagi sudah menjelang tiba” Bu Eri mencoba memcah keheningan setelah melihat jarum jam jam di arlojinya “ada baiknya kamu juga tidur seperti yang lainnya “setidaknya dengan beristirahat kamu bisa melepas lelah setelah kejadian tadi”
“Sama dengan ibu kan?!?”
“Tapi ibu masih punya kewajiban untuk berjaga-jaga selama kalian tidur”
“Hem...”
“Sudahlah cepat tidur Mac..”
“Baiklah... jika ibu memaksa...”, aku mencoba memejamkan mata, berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi tapi yang terjadi malah sebaliknya, “mungkin berdoa bisa membantu” gumanku lirih, benar juga setelah berdoa mataku semakin berat... berat...
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Siapa itu!”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Siapa kamu?”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Dimana kamu?”
“Mati? Mati! Ajal?”
“Hey apa maksudmu?!”
“.....”
“Tolong...aku...tidak...”
“Woey!!!”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
Lalu didepanku terlihat seorang anak perempuan kecil membawa boneka berdiri di balik kabut, entah apakah itu benar-benar kabut... dia menangis... dan berusaha mengatakan sesuatu... aku tidak bisa mendengarnya... “apa yang ingin kamu katakan” gadis itu tetap menangis dan berusaha mengutarakan maksudnya kepadaku.. tapi tetap saja hanya keheningan yang aku dapat lalu mendadak aku berada di tengah sebuah desa dengan rumah berhias kobar api menjilat-genit seluruh bangunan di sana
terlihat bayangan berbentuk manusia berlarian, terdengar jeritan lolongan di sana-sini.. apa ini?
Gadis kecil itu masih tetap ada di sana... menangis...siapapun tolonglah dia... apa ini.. kakiku terasa sangat berat...aku melihat kakiku? Apa ini? Kakiku tidak bisa digerakkan... aku memegang mereka.. keras.. seperti sebuah... logam... apa ini?! Aku berteriak... meminta tolong.... aku merasa tidak berdaya... tapi aku harus tetap berjalan.. aku berusaha menggerakkan kedua kakiku... berhasil... dengan suara berdecit aku mendekati gadis kecil... suara lolongan tangis dan panik tetap membaur menakuti para setan yang mendekat.. “hampir.. sampai..”kataku.. sampai akhirnya kedua kakiku benar-benar tidak bisa di gerakkan.. “Ayolah tinggal sedikit lagi..” tetap saja aku seperti di pasak ditempat, aku melihat ke bawah dan mendapatkan karat yang mengkroposi keduanya.... aaahhh apa ini?!?
aku terjatuh kedepan.. keduanya patah dan mengeluarkan darah segar... sakit..sakit sekali... aku menegadahkan mukaku ke depan... gadis kecil itu tetap terdiam menangis di sana dengan memeluk bonekanya di tengah hiruk pikuk orang yang berlarian, tanpa seorangpun mengetahuinya dengan sibuk berlarian tanpa arah. Aku menggunakan kedua tanganku... menyeret badanku mendekati gadis kecil itu..kemudian semuanya... gelap..dan semakin gelap..hitam..
Sesuatu menggelinding dan menabrak kepalaku... apa itu?
Aku meraba benda itu... seperti sebuah benda berbentuk bulat dan basah.. basah?! Aku melihat tanganku, keduanya berdarah!! tunggu sebentar kedua tanganku tidak terluka. Aku mencoba duduk dengan sisa tenaga yang ada dan sakit yang terus menusuk. Mataku terbelalak melihatnya.. sang gadis kecil dengan tetap memeluk erat bonekanya jatuh tertelungkup dengan kepala terlepas dan berada dipangkuanku terdapat dua garpu jerami dan beberapa parang menancap di punggungnya.. aku berteriak...
Log 001. First Trip Camp
“Apa?! Camp 2 hari ke pantai?!?” aku berteriak memastikan kebenaran berita yang baru saja kudengar
“Iya... memangnya kenapa Mac... ?”
“Untuk apa club astronomi melakukan perjalanan camp?! Dan lagi campnya di sebuah pantai”
“Tidak apa-apa kan? Anggap saja refreshing, mungkin saja di sana kita bisa menemukan bintang baru”
“Tapi.....”
Sebuah van putih dengan beberapa koper di atapnya berhenti tepat didepan kami
“Sudahlah Hana, seret saja Mac masuk kedalam van”
“Ibu Eri!”
“Benar benar!!”
“Perlu bantuan tenaga untuk menyeretnya masuk kedalam Hana?”
“Rose, suka bertamasya~”
“Eh.. kalian jadi berangkat sekarang?”
“Tentu saja, itulah kenapa kami ke rumah Mac”
“Rose tahu kalo Hana pasti akan memaksa Mac ikut tamasya yaa~”
“Ehh.. tapi aku...”
“Sudahlah kamu masuk saja!!” Ricchie dan Orville mengangkat badanku seperti seonggok karung beras dan melemparkanku kebagian belakang van
“Pencu..mmmf....”
“Maaf yah tapi untuk sementara kamu harus DIAM!”
“Mmmmff..mmfffff......mmmmm...” aku meronta tapi tumpukan tas diatas badanku membuatku tak bisa bergerak sampai akhirnya aku tertidur”
*****
Aku membuka mataku, badanku masih susah digerakkan akibat tumpukan tas di atas badanku, aku berusaha meronta dan melepas lakban di mulutku. Deru mesin berhenti dan terdengar suara beberapa teman 'penculik'ku dari luar van
“Bagaimana ini, masa keempat bannya meletus”
“Itulah, ibu sendiri juga tidak mengerti, bahkan sekarang mesinnya ngadat”
“Bensin juga sepertinya menipis bu”
“Sungguh kejadian yang cukup aneh”
“Benar-benar”
“bu Eri... Rose takut~”
“Hari juga semakin gelap, untuk sementara kita berkemah di sekitar sini saja”
“Masa kemah di hutan sih”
“Jangan banyak omong, Ricchie, Orville, dan kamu Mac!! Ibu tahu kamu sudah bangun!!”
Aku merangkak keluar dari van “ada apa bu Eri?”
“Ambil beberapa peralatan kemping di mobil, kita berkemah di hutan!!”
“Ehhh!!!” aku dan kelima temanku serempak protes
“KERJAKANNNN!!”
“Bbbaik...bbbuuuu.....”
Aku mengangkat sebuah tas berisi dome untuk 3 orang seorang diri dan mulai berjalan mengikuti rombongan
“bu Eri... ibu tahu jalan di sini?”
“Memangnya kenapa An?”
“Ibu Eri berjalan seakan sudah mengenal jalan di hutan ini”
“Kamu bercanda?!? bahkan membayangkan saja ibu tidak pernah” Sambil menyeka keringat di dahinya dengan saputangan berwarna cream.
Kami terus berjalan hingga sampai di suatu daerah yang sedikit lapang dan minim pohon, “Oke Mac dan Orville, turunkan bawaan kalian”
“Seharusnya ibu menyuruh kami berhenti membawa ini sejak 15 menit yang lalu, lihat bu rasanya punggung saya sedikit sakit menahan bawaan yang berat” sungut Orville kesal
“Jangan protes!” jawab bu Eri dingin disahuti tawa keempat teman yang lain, sementara aku hanya meletakkan bawaanku sambil menghela nafas berat
“Kamu tidak apa-apa Mac?” Hana mendekatiku dengan sebotol air mineral
“Hem.. aku hanya capek, itu saja tidak ada yang lain, memangnya kenapa?”
“Maaf sudah memaksamu ikut perjalanan camp ini”
“Sudahah toh, aku di rumah juga tidak melakukan apa-apa” dengan memaksa aku mencoba memunculkan senyum 'paksa' bibirku yang bahkan sudah ikut kehabisan tenaga
“Oh, Syukur deh kalo begitu”
“Orville tidak apa-apa~?” Rose hendak memgelap keringat di dahi Orville dengan wajah cemas
“Sudahlah!! ini bukan apa-apa” dengan cepat Orville menolak kebaikan Rose dengan wajah memerah
“Tttaa..app...ppii....R..r....roose.. kan....”
“Wah... mereka mulai lagi...”
“Sudahlah Orville, jangan membuat Rose menangis lagi”
“Rrr..roo.roosse.. kkaann... hh..hhhaa..nn..nnyya.. “
“Ah Orville membuat Rose menangis lagi..”
“BBAIIKKK...!! SILAHKAN MELAKUKAN YANG KAMU SUKA..!!” teriak Orville keras dengan muka memerah, “dan berhentilah menangis... dasar cengeng..”tambahnya dengan setengah berbisik
“Baik~”
Sementara Ricchie hanya mencibir mereka berdua, aku hanya menghela nafas panjang dan melanjutkan mendirikan dome, dibantu oleh Ann
bu Eri mengeluarkan dua buah lampu darurat dari tasnya “Ini hanya bertahan sekitar semalam saja, lebih dari itu kita terpaksa mencari kayu bakar sebagai penerangan, terlebih lagi sepertinya kita harus mencari pertolongan, jadi dengan kata lain....”
“Kenapa bu?”
“....Kita dalam bahaya,,,,”
“...Bagaimana Ibu bisa menyimpulkan hal tersebut...”
“Oke point pertama, van kita berhenti dengan kondisi yang janggal seperti keempat rodanya meletus, bensin mendekati nol, dan mesin seakan tidak menyala..”
“Lalu? bukannya itu hanya kerusakan mobil biasa?”
“Point Kedua, Bahkan Handphone ibu tidak mendapat sinyal sama sekali, seperti ada sesuatu yang mengganggu sinyal penerimanya..”
“Ibu Erico.. bukannya hal itu memamng wajar jika kita berada di hutan seperti ini??”
“Ini point yang cukup aneh bagi ibu”
“Maksud Ibu Point kedua??”
“bukan.. tapi point ketiga... point terakhir....”
“Apa itu bu??”
“Kita hanya punya sup kaleng untuk makan malam” Aku hanya tertawa datar mendengar lelucon bu Erico yang tidak tepat dengan keadaan saat ini, sementara Hana meledak mengomeli lelucon dingin bu Erico yang konyol?? mungkin??
*****
Malam setelah semua pemasangan dome selesai, kami berkumpul bersama memakan sup kaleng yang sudah dipanaskan dengan kompor gas portabel lalu setelah itu kembali ke dome yang sudah di sepakati untuk tidur, sementara aku tidak bisa memejamkan mataku aku pergi keluar menerjang dingin udara di hutan
Aku melihat Ibu Eri berjalan menjauhi dome wanita dan berkeliling, aku bertanya-tanya dalam hati apa yang hendak beliau lakukan di hutan seperti ini.
Aku mencoba membuntutinya, mengendap-endap dan berusaha menyembunyikan badanku di balik pohon sambil terus membuntuti Ibu Erico, sampai sekitar 10 menit aku membuntuti bu Erico dengan penerangan cahaya bulan hampir-penuh mendadak beliau berhenti, lalu menoleh kekanan-dan kekiri seakan hendak menyebrangi jalan Dipengoro memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya lalu kembali berjalan, sepertinya beliau menyadari jika ada yang mengikutinya, entah karena apa untuk beberapa saat aku merasa cara beliau berjalan begitu cepat dan tenang, bagaimana tidak?! Aku yang sedari tadi mengikutinya dengan setengah berlari sudah merasa payah sekali, sementara beliau terus saja berjalan seakan tidak berjalan melainkan terbang dan lagi untuk apa bu Erico berjalan menuri hutan yang bahkan baru pertama kali ditapakinya dengan memakai kacamata nya yang berwarna merah sampai sampai terlihat matanya menyala merah, tapi tunggu sebentar aku merasa ada yang janggal. Lalu tiba-tiba sebuah tangan menlingkari mulutku, berusaha membuatku bungkam dari kata-kata
“Ssstttt.. diaammm...” aku menoleh kearah belakang dan terbelalak
“bu Eri?!?” setengah berteriak, aku berbisik “bagaimana mungkin?!?”
“Apa maksudmu??”
“Anda bu Eri?? Ibu Erico yang sebenarnya?!?”
“bukan aku hantu! Tentu saja aku Erico guru fisikamu dikelas!! memangnya siapa lagi” dengan khas jitakannya mendarat di kepalaku “Dan lagi apa maksudmu pergi menjauhi dome camp sendirian??”
“Tapi bu...”
“Tapi apa..?!?”
“Saya begini karena mengikuti ibu”
“Haa?! Apa maksudmu?! Ibu dari tadi berada di dalam dome bersama ketiga teman club wanitamu sampai ibu melihat bayangan menjauhi dome dengan suara erangan, dan saat ibu tahu ternyata ibu mengikuti dirimu” dengan wajah berusaha tenang
“Lalu Siapa wanita yang baru saja saya ikuti ini? Jika bukan ibuu?!?”
“Entahlah?? mungkin hantu” katanya dengan seterngah menggoda “lagipula dia barusaja berjalan kembali”
“Ha!?”
“Lihatlah... apapun itu yang sedang kamu buntuti, dia sudah pergi”
“Sial!! ayo bu kita lanjutkan mengejarnya, saya merasa tidak enak dengan hal ini”
“Mungkin juga..”
Entah semenjak tadi ada perasaan aneh menyelimuti hatiku. Aku bergegas mempercepat langkahku bersama Ibu Erico, dengah langkah seminim mungkin bunyi, berusaha berkesan dia tetap berjalan sendiri kami terus mengikuti langkah kakinya sampai dia berhenti lagi
sesaat aku melihat wajahnya menoleh kebelakang, tunggu sebentar!! bagaimana lehernya bisa berputar 180˚ seperti burung hantu?!? tidak ada manusia yang bisa melakukan hal itu
kemudian dia menyeringai dalam gelap dan mata berwarna merah yang seperti darah ditimpa sinar bulan, lalu kabut tebal mendadak muncul menyelimutiku dan bu Erico sesaat lalu kembali memudar bersama Seseorang atau mungkin sesuatu yang baru saja aku ikuti.
“Tungguuuu!! teriakku berlari” tapi dia sudah tidak ada di sana lagi
“Macclyne!! Ayo segera kembali ke kawasan Dome!!”
“Kenapa bu Eri?!?”
“Ibu merasa perasaanmu tadi menjadi kenyataan, ibu merasa khawatir dengan teman-temanmu yang tertidur di dalam dome”
“Ibu benar!!”
Seketika itu juga aku berlari sekuat tenaga mengikuti bu Erico menuju kawasan kami mendirikan dome
“Ibu tahu jalannya?” Sambil terengah-engah aku berusaha bertanya
“Ibu sudah membuat tanda kecil saat mengikutimu tadi”
“BAMM!!” terdengar suara sesuatu yang sangat besar terjatuh dengan keras, sesaat aku dan bu Ericco saling berhenti dan berpandangan dengan raut muka tegang, dan pucat lau berlari kembali.
“....Apa ini...?”Benar saja, sesampainya di sana yang kami lihat sungguh membuatku shock
Dua batang pohon dengan masing masing keliling lebih dari dua lingkaran yang bisa di bentuk dua orang dengan saling bergandeng tangan membentuk sebuah lingkaran jatuh menghantam masing masing dome yang kami buat, Ibu Erico hanya bisa lemas terduduk dan menangis, sementara aku berusaha mendorong pohon konyol yang men'duduki' dome kami
“Ricchie!! Orville!! Oey!!” dengan sekuat tenaga au berusaha mendorong pohon besar itu, meskipun hasilnya nihil tapi aku terus berusaha mendorong agar pohon itu bergeser, sementara dari antara sela pohon merembes cairan, berwarna merah, darah?? mungkin saja, tapi darah siapapun itu aku tidak tahu, yang ada hanya perasaan takut dan binggung. Berganti ke arah dome wanita, aku berusaha mendorong pohon yang roboh menindih dome mereka
Panik aku terus memanggil nama mereka “Rose!! Ann!!”
sementara isak tangis Ibu Erico semakin terdengar dalam gelap hutan yang hanya diterangi cahaya bulan
“Sudahlah Mac... mereka sudah...”
“Belum bu!! aku yakin mereka masih selamat”
“Tapi Mac... tidak mungkin...”
“Masih belum bu Eri... masih belum...” aku terus berusaha mendorong pohon”
“Macclyne...!!!..... sudah...cukup....”
“..Tapi bu Eri...”
“... Sudah... cukup...”
Aku hanya bisa terdiam membisu melihat bongkah kayu batang di depanku dengan kesal dan mengumpat dalam hati 'sial!! sial!! sial!! sial!!' terus berulang ulang
lalu teringat satu teman yang slalu dekat denganku, benar ini bukan waktunya meratap, aku kembali mendorong batang pohon besar itu
“Hana..”terus kudorong, tapi nihil..
“Sudahlah Mac... hana juga bersama mereka...”
“Masih belum bu..!! hana pasti masih...”
“MACCLYNE..!!!” teriakan bu Eri memecah malam di hutan, membuatku menghentikan perbuatanku dengan terisak, aku menendang bongkahan batang pohon tumbang didepaku
“SIIAAALLLL... KAU.... HANAAAAAA...!!!” teriakku keras, lalu sebuah kaleng sup mendarat di belakang kepalaku dengan halus sehingga membuatnya berbunyi merdu 'klong'
“Apa maksudmu sial kau hana?!”
Aku menoleh kearah belakangku bersama-sama dengan bu Eri
“..Ha..na..?”
“Iya ini aku, apa maksudmu mengumpat aku huh?!”
Bu Erico mengenhtikan tangisnya “kamu selamat?”
“Bukan hanya saya bu, yang lainnya juga selamat kok”
“Tapi... saat aku pergi...”
“Justru kamilah yang cemas, saat tahu kamu dan bu Eri menghilang bersama...”Hana memotong perkataanku
“... Dan jangan membunuh orang seenakmu saja Mac, tidak mungkin Ricchie ini mati begitu saja”
“Ibu Eri tadi kemana~? Rose takut bu~”
“....” aku dan bu Eri hanya diam melihat semua temanku selamat. Antara gembira dan takjub bergabung menjadi satu
“Kalian selamat....”
“Brengsek.. apa maksudmu aku sudah mati”Orville sudah mengepalkan tinjunya geram
“Tapi..tapi...”
“Bukankah kalian tadi ada di dalam tenda?” tanya bu Erico
“Benar sekali, itulah yang membuat kami sendiri heran” hana sedikit memiringkan kepalanya
“Apa maksudmu hana..?!”
“Saat terbangun aku berada di lahan kosong seperti sebuah pertanian bersama keempat teman lainnya, lalu terdengar bunyi 'BAMM' dari arah atasku”
“Setelah itu Hana berusaha membangunkan semua orang termasuk Rose~”
“Dan menendang perutku bedebah” Orville mengepalkan tinjunya lebih erat lagi
“Itu bukannya karena kamu tidak bisa bangun dengan cara biasa kan?” Melanie berusaha membela Hana
“Diam kau Ann” diikuti tawa pelan Rose dan Ricchie
“... Setelah semuanya bangun kami diajaknya berlari menuju arah ini...”
“Lalu inilah yang kami lihat saat ini..”
Kami semua membisu
“Oke saat ini itu tidak penting, yang penting kalian semua selamat”
“Benarr.. itu yang terpenting!”
“Lebih baik sekarang kita mencoba mengambil barang yang masih bisa diselamatkan dari dome masing-masing”
“Tapi bukannya batang ini berat?”
“Kita dorong bersama”
“Oke hitungan ketiga”
“TIGAA!!!” dengan sekuat tenaga kami bertujuh mendorong bongkahan kayu tumbang dari atas dome para wanita dan hanya bisa menggeser sekitar 10 centimeter dari tempatnya semula setidaknya cukup besar untuk menarik tas-tas yang berada di dalam dome, hal serupa kami lakukan pada bongkahan kayu lainnya yang berada di atas dome Pria walau hasilnya nihil yang membuat kami terpaksa menyayat satu bagian dari dome untuk mengeluarkan tas-tas.
“Untuk lebih aman, kita berjalan bersama menuju tempat yang tadi kau ceritakan Hana”
“Eh... maksud Ibu Eri dataran yang seperti lahan pertanian itu?!?”
“Benar!! dan sebagai pengaman tambahan, kita berjalan dengan saling menggandeng tangan”
“Ehh?!? menggandeng tangan wanita!! tidak!!” Orville protes, tapi setelah melihat wajah bu Eri dan Rose akhirnya dia mau melakukanya. Aku berada di ujung akhir gandengan bersama bu Erico
“Ibu tidak menceritakan mengenai apa yang kita lihat kepada mereka, bu?” setengah berbisik aku bertanya
“Agar tidak memperumit masalah, sebaiknya masalah ini kita simpan saja sendiri”
“Benar juga.. jika mereka sampai tahu.. bisa saja mereka panik dan memperburuk masalah”
“Kalau benar kata Hana, berarti kita dekat dengan pemukiman penduduk semoga saja kita bisa memita bantuan kepada orang-orang dari kota untuk menjemput kita di sini”
“Semoga saja itu benar bu Eri...”
“Apa?! Camp 2 hari ke pantai?!?” aku berteriak memastikan kebenaran berita yang baru saja kudengar
“Iya... memangnya kenapa Mac... ?”
“Untuk apa club astronomi melakukan perjalanan camp?! Dan lagi campnya di sebuah pantai”
“Tidak apa-apa kan? Anggap saja refreshing, mungkin saja di sana kita bisa menemukan bintang baru”
“Tapi.....”
Sebuah van putih dengan beberapa koper di atapnya berhenti tepat didepan kami
“Sudahlah Hana, seret saja Mac masuk kedalam van”
“Ibu Eri!”
“Benar benar!!”
“Perlu bantuan tenaga untuk menyeretnya masuk kedalam Hana?”
“Rose, suka bertamasya~”
“Eh.. kalian jadi berangkat sekarang?”
“Tentu saja, itulah kenapa kami ke rumah Mac”
“Rose tahu kalo Hana pasti akan memaksa Mac ikut tamasya yaa~”
“Ehh.. tapi aku...”
“Sudahlah kamu masuk saja!!” Ricchie dan Orville mengangkat badanku seperti seonggok karung beras dan melemparkanku kebagian belakang van
“Pencu..mmmf....”
“Maaf yah tapi untuk sementara kamu harus DIAM!”
“Mmmmff..mmfffff......mmmmm...” aku meronta tapi tumpukan tas diatas badanku membuatku tak bisa bergerak sampai akhirnya aku tertidur”
*****
Aku membuka mataku, badanku masih susah digerakkan akibat tumpukan tas di atas badanku, aku berusaha meronta dan melepas lakban di mulutku. Deru mesin berhenti dan terdengar suara beberapa teman 'penculik'ku dari luar van
“Bagaimana ini, masa keempat bannya meletus”
“Itulah, ibu sendiri juga tidak mengerti, bahkan sekarang mesinnya ngadat”
“Bensin juga sepertinya menipis bu”
“Sungguh kejadian yang cukup aneh”
“Benar-benar”
“bu Eri... Rose takut~”
“Hari juga semakin gelap, untuk sementara kita berkemah di sekitar sini saja”
“Masa kemah di hutan sih”
“Jangan banyak omong, Ricchie, Orville, dan kamu Mac!! Ibu tahu kamu sudah bangun!!”
Aku merangkak keluar dari van “ada apa bu Eri?”
“Ambil beberapa peralatan kemping di mobil, kita berkemah di hutan!!”
“Ehhh!!!” aku dan kelima temanku serempak protes
“KERJAKANNNN!!”
“Bbbaik...bbbuuuu.....”
Aku mengangkat sebuah tas berisi dome untuk 3 orang seorang diri dan mulai berjalan mengikuti rombongan
“bu Eri... ibu tahu jalan di sini?”
“Memangnya kenapa An?”
“Ibu Eri berjalan seakan sudah mengenal jalan di hutan ini”
“Kamu bercanda?!? bahkan membayangkan saja ibu tidak pernah” Sambil menyeka keringat di dahinya dengan saputangan berwarna cream.
Kami terus berjalan hingga sampai di suatu daerah yang sedikit lapang dan minim pohon, “Oke Mac dan Orville, turunkan bawaan kalian”
“Seharusnya ibu menyuruh kami berhenti membawa ini sejak 15 menit yang lalu, lihat bu rasanya punggung saya sedikit sakit menahan bawaan yang berat” sungut Orville kesal
“Jangan protes!” jawab bu Eri dingin disahuti tawa keempat teman yang lain, sementara aku hanya meletakkan bawaanku sambil menghela nafas berat
“Kamu tidak apa-apa Mac?” Hana mendekatiku dengan sebotol air mineral
“Hem.. aku hanya capek, itu saja tidak ada yang lain, memangnya kenapa?”
“Maaf sudah memaksamu ikut perjalanan camp ini”
“Sudahah toh, aku di rumah juga tidak melakukan apa-apa” dengan memaksa aku mencoba memunculkan senyum 'paksa' bibirku yang bahkan sudah ikut kehabisan tenaga
“Oh, Syukur deh kalo begitu”
“Orville tidak apa-apa~?” Rose hendak memgelap keringat di dahi Orville dengan wajah cemas
“Sudahlah!! ini bukan apa-apa” dengan cepat Orville menolak kebaikan Rose dengan wajah memerah
“Tttaa..app...ppii....R..r....roose.. kan....”
“Wah... mereka mulai lagi...”
“Sudahlah Orville, jangan membuat Rose menangis lagi”
“Rrr..roo.roosse.. kkaann... hh..hhhaa..nn..nnyya.. “
“Ah Orville membuat Rose menangis lagi..”
“BBAIIKKK...!! SILAHKAN MELAKUKAN YANG KAMU SUKA..!!” teriak Orville keras dengan muka memerah, “dan berhentilah menangis... dasar cengeng..”tambahnya dengan setengah berbisik
“Baik~”
Sementara Ricchie hanya mencibir mereka berdua, aku hanya menghela nafas panjang dan melanjutkan mendirikan dome, dibantu oleh Ann
bu Eri mengeluarkan dua buah lampu darurat dari tasnya “Ini hanya bertahan sekitar semalam saja, lebih dari itu kita terpaksa mencari kayu bakar sebagai penerangan, terlebih lagi sepertinya kita harus mencari pertolongan, jadi dengan kata lain....”
“Kenapa bu?”
“....Kita dalam bahaya,,,,”
“...Bagaimana Ibu bisa menyimpulkan hal tersebut...”
“Oke point pertama, van kita berhenti dengan kondisi yang janggal seperti keempat rodanya meletus, bensin mendekati nol, dan mesin seakan tidak menyala..”
“Lalu? bukannya itu hanya kerusakan mobil biasa?”
“Point Kedua, Bahkan Handphone ibu tidak mendapat sinyal sama sekali, seperti ada sesuatu yang mengganggu sinyal penerimanya..”
“Ibu Erico.. bukannya hal itu memamng wajar jika kita berada di hutan seperti ini??”
“Ini point yang cukup aneh bagi ibu”
“Maksud Ibu Point kedua??”
“bukan.. tapi point ketiga... point terakhir....”
“Apa itu bu??”
“Kita hanya punya sup kaleng untuk makan malam” Aku hanya tertawa datar mendengar lelucon bu Erico yang tidak tepat dengan keadaan saat ini, sementara Hana meledak mengomeli lelucon dingin bu Erico yang konyol?? mungkin??
*****
Malam setelah semua pemasangan dome selesai, kami berkumpul bersama memakan sup kaleng yang sudah dipanaskan dengan kompor gas portabel lalu setelah itu kembali ke dome yang sudah di sepakati untuk tidur, sementara aku tidak bisa memejamkan mataku aku pergi keluar menerjang dingin udara di hutan
Aku melihat Ibu Eri berjalan menjauhi dome wanita dan berkeliling, aku bertanya-tanya dalam hati apa yang hendak beliau lakukan di hutan seperti ini.
Aku mencoba membuntutinya, mengendap-endap dan berusaha menyembunyikan badanku di balik pohon sambil terus membuntuti Ibu Erico, sampai sekitar 10 menit aku membuntuti bu Erico dengan penerangan cahaya bulan hampir-penuh mendadak beliau berhenti, lalu menoleh kekanan-dan kekiri seakan hendak menyebrangi jalan Dipengoro memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya lalu kembali berjalan, sepertinya beliau menyadari jika ada yang mengikutinya, entah karena apa untuk beberapa saat aku merasa cara beliau berjalan begitu cepat dan tenang, bagaimana tidak?! Aku yang sedari tadi mengikutinya dengan setengah berlari sudah merasa payah sekali, sementara beliau terus saja berjalan seakan tidak berjalan melainkan terbang dan lagi untuk apa bu Erico berjalan menuri hutan yang bahkan baru pertama kali ditapakinya dengan memakai kacamata nya yang berwarna merah sampai sampai terlihat matanya menyala merah, tapi tunggu sebentar aku merasa ada yang janggal. Lalu tiba-tiba sebuah tangan menlingkari mulutku, berusaha membuatku bungkam dari kata-kata
“Ssstttt.. diaammm...” aku menoleh kearah belakang dan terbelalak
“bu Eri?!?” setengah berteriak, aku berbisik “bagaimana mungkin?!?”
“Apa maksudmu??”
“Anda bu Eri?? Ibu Erico yang sebenarnya?!?”
“bukan aku hantu! Tentu saja aku Erico guru fisikamu dikelas!! memangnya siapa lagi” dengan khas jitakannya mendarat di kepalaku “Dan lagi apa maksudmu pergi menjauhi dome camp sendirian??”
“Tapi bu...”
“Tapi apa..?!?”
“Saya begini karena mengikuti ibu”
“Haa?! Apa maksudmu?! Ibu dari tadi berada di dalam dome bersama ketiga teman club wanitamu sampai ibu melihat bayangan menjauhi dome dengan suara erangan, dan saat ibu tahu ternyata ibu mengikuti dirimu” dengan wajah berusaha tenang
“Lalu Siapa wanita yang baru saja saya ikuti ini? Jika bukan ibuu?!?”
“Entahlah?? mungkin hantu” katanya dengan seterngah menggoda “lagipula dia barusaja berjalan kembali”
“Ha!?”
“Lihatlah... apapun itu yang sedang kamu buntuti, dia sudah pergi”
“Sial!! ayo bu kita lanjutkan mengejarnya, saya merasa tidak enak dengan hal ini”
“Mungkin juga..”
Entah semenjak tadi ada perasaan aneh menyelimuti hatiku. Aku bergegas mempercepat langkahku bersama Ibu Erico, dengah langkah seminim mungkin bunyi, berusaha berkesan dia tetap berjalan sendiri kami terus mengikuti langkah kakinya sampai dia berhenti lagi
sesaat aku melihat wajahnya menoleh kebelakang, tunggu sebentar!! bagaimana lehernya bisa berputar 180˚ seperti burung hantu?!? tidak ada manusia yang bisa melakukan hal itu
kemudian dia menyeringai dalam gelap dan mata berwarna merah yang seperti darah ditimpa sinar bulan, lalu kabut tebal mendadak muncul menyelimutiku dan bu Erico sesaat lalu kembali memudar bersama Seseorang atau mungkin sesuatu yang baru saja aku ikuti.
“Tungguuuu!! teriakku berlari” tapi dia sudah tidak ada di sana lagi
“Macclyne!! Ayo segera kembali ke kawasan Dome!!”
“Kenapa bu Eri?!?”
“Ibu merasa perasaanmu tadi menjadi kenyataan, ibu merasa khawatir dengan teman-temanmu yang tertidur di dalam dome”
“Ibu benar!!”
Seketika itu juga aku berlari sekuat tenaga mengikuti bu Erico menuju kawasan kami mendirikan dome
“Ibu tahu jalannya?” Sambil terengah-engah aku berusaha bertanya
“Ibu sudah membuat tanda kecil saat mengikutimu tadi”
“BAMM!!” terdengar suara sesuatu yang sangat besar terjatuh dengan keras, sesaat aku dan bu Ericco saling berhenti dan berpandangan dengan raut muka tegang, dan pucat lau berlari kembali.
“....Apa ini...?”Benar saja, sesampainya di sana yang kami lihat sungguh membuatku shock
Dua batang pohon dengan masing masing keliling lebih dari dua lingkaran yang bisa di bentuk dua orang dengan saling bergandeng tangan membentuk sebuah lingkaran jatuh menghantam masing masing dome yang kami buat, Ibu Erico hanya bisa lemas terduduk dan menangis, sementara aku berusaha mendorong pohon konyol yang men'duduki' dome kami
“Ricchie!! Orville!! Oey!!” dengan sekuat tenaga au berusaha mendorong pohon besar itu, meskipun hasilnya nihil tapi aku terus berusaha mendorong agar pohon itu bergeser, sementara dari antara sela pohon merembes cairan, berwarna merah, darah?? mungkin saja, tapi darah siapapun itu aku tidak tahu, yang ada hanya perasaan takut dan binggung. Berganti ke arah dome wanita, aku berusaha mendorong pohon yang roboh menindih dome mereka
Panik aku terus memanggil nama mereka “Rose!! Ann!!”
sementara isak tangis Ibu Erico semakin terdengar dalam gelap hutan yang hanya diterangi cahaya bulan
“Sudahlah Mac... mereka sudah...”
“Belum bu!! aku yakin mereka masih selamat”
“Tapi Mac... tidak mungkin...”
“Masih belum bu Eri... masih belum...” aku terus berusaha mendorong pohon”
“Macclyne...!!!..... sudah...cukup....”
“..Tapi bu Eri...”
“... Sudah... cukup...”
Aku hanya bisa terdiam membisu melihat bongkah kayu batang di depanku dengan kesal dan mengumpat dalam hati 'sial!! sial!! sial!! sial!!' terus berulang ulang
lalu teringat satu teman yang slalu dekat denganku, benar ini bukan waktunya meratap, aku kembali mendorong batang pohon besar itu
“Hana..”terus kudorong, tapi nihil..
“Sudahlah Mac... hana juga bersama mereka...”
“Masih belum bu..!! hana pasti masih...”
“MACCLYNE..!!!” teriakan bu Eri memecah malam di hutan, membuatku menghentikan perbuatanku dengan terisak, aku menendang bongkahan batang pohon tumbang didepaku
“SIIAAALLLL... KAU.... HANAAAAAA...!!!” teriakku keras, lalu sebuah kaleng sup mendarat di belakang kepalaku dengan halus sehingga membuatnya berbunyi merdu 'klong'
“Apa maksudmu sial kau hana?!”
Aku menoleh kearah belakangku bersama-sama dengan bu Eri
“..Ha..na..?”
“Iya ini aku, apa maksudmu mengumpat aku huh?!”
Bu Erico mengenhtikan tangisnya “kamu selamat?”
“Bukan hanya saya bu, yang lainnya juga selamat kok”
“Tapi... saat aku pergi...”
“Justru kamilah yang cemas, saat tahu kamu dan bu Eri menghilang bersama...”Hana memotong perkataanku
“... Dan jangan membunuh orang seenakmu saja Mac, tidak mungkin Ricchie ini mati begitu saja”
“Ibu Eri tadi kemana~? Rose takut bu~”
“....” aku dan bu Eri hanya diam melihat semua temanku selamat. Antara gembira dan takjub bergabung menjadi satu
“Kalian selamat....”
“Brengsek.. apa maksudmu aku sudah mati”Orville sudah mengepalkan tinjunya geram
“Tapi..tapi...”
“Bukankah kalian tadi ada di dalam tenda?” tanya bu Erico
“Benar sekali, itulah yang membuat kami sendiri heran” hana sedikit memiringkan kepalanya
“Apa maksudmu hana..?!”
“Saat terbangun aku berada di lahan kosong seperti sebuah pertanian bersama keempat teman lainnya, lalu terdengar bunyi 'BAMM' dari arah atasku”
“Setelah itu Hana berusaha membangunkan semua orang termasuk Rose~”
“Dan menendang perutku bedebah” Orville mengepalkan tinjunya lebih erat lagi
“Itu bukannya karena kamu tidak bisa bangun dengan cara biasa kan?” Melanie berusaha membela Hana
“Diam kau Ann” diikuti tawa pelan Rose dan Ricchie
“... Setelah semuanya bangun kami diajaknya berlari menuju arah ini...”
“Lalu inilah yang kami lihat saat ini..”
Kami semua membisu
“Oke saat ini itu tidak penting, yang penting kalian semua selamat”
“Benarr.. itu yang terpenting!”
“Lebih baik sekarang kita mencoba mengambil barang yang masih bisa diselamatkan dari dome masing-masing”
“Tapi bukannya batang ini berat?”
“Kita dorong bersama”
“Oke hitungan ketiga”
“TIGAA!!!” dengan sekuat tenaga kami bertujuh mendorong bongkahan kayu tumbang dari atas dome para wanita dan hanya bisa menggeser sekitar 10 centimeter dari tempatnya semula setidaknya cukup besar untuk menarik tas-tas yang berada di dalam dome, hal serupa kami lakukan pada bongkahan kayu lainnya yang berada di atas dome Pria walau hasilnya nihil yang membuat kami terpaksa menyayat satu bagian dari dome untuk mengeluarkan tas-tas.
“Untuk lebih aman, kita berjalan bersama menuju tempat yang tadi kau ceritakan Hana”
“Eh... maksud Ibu Eri dataran yang seperti lahan pertanian itu?!?”
“Benar!! dan sebagai pengaman tambahan, kita berjalan dengan saling menggandeng tangan”
“Ehh?!? menggandeng tangan wanita!! tidak!!” Orville protes, tapi setelah melihat wajah bu Eri dan Rose akhirnya dia mau melakukanya. Aku berada di ujung akhir gandengan bersama bu Erico
“Ibu tidak menceritakan mengenai apa yang kita lihat kepada mereka, bu?” setengah berbisik aku bertanya
“Agar tidak memperumit masalah, sebaiknya masalah ini kita simpan saja sendiri”
“Benar juga.. jika mereka sampai tahu.. bisa saja mereka panik dan memperburuk masalah”
“Kalau benar kata Hana, berarti kita dekat dengan pemukiman penduduk semoga saja kita bisa memita bantuan kepada orang-orang dari kota untuk menjemput kita di sini”
“Semoga saja itu benar bu Eri...”
Langganan:
Postingan (Atom)