Log 003. Standby!


“......Aaaaa” semua bayangan itu lenyap.. berganti pemandangan indah matahari terbit tepat didepanku menyapa ramah seolah mengucapkan selamat pagi dengan sinarnya yang hangat dan masih malu-malu muncul

“... mimpi...?”aku melihat kedua tanganku, lalu kedua kakiku.. oke rasanya tadi hanya mimpi, tapi aku merasa kakiku benar-benar susah digerakkan.. keduanya terasa sangat berat... tunggu dulu aku melihat Orville menggunakan kedua kakiku sebagai alas kepalanya saat tidur, mungkin karena itulah aku mendapat mimpi buruk, “dasar anak menyebalkan!!” umpaku dalam hati sambil menyingkirkan kepalanya dari kedua kakiku secara berlahan.

Setelah misi menyingkirkan kepala Orville dengan dengkurannya yang sepulas Hippo-Afrika dari kakiku selesai, aku melihat sekelilingku, semuanya masih tertidur pulas, tidak terkecuali Ibu Erico. Aku tersenyum melihatnya, bagaimanapun tegarnya Guru kami itu, dia hanyalah manusia biasa yang tetap membutuhkan istirahat

Aku berdiri dan merenggangkan badanku, menggeliat seperti cacing lalu memeriksa keadaan sekitar sekaligus mencari sesuatu yang mungkin bisa dimakan, bagaimanapun kami cuma orang biasa yang bisa lapar. Beruntung aku bisa menemukan beberapa dedaunan yang sepertinya bisa dimakan warnanya hijau dengan ukuran daun tidak sebesar daun bayam, dan tidak memiliki bulu

“hem.. sepertinya ini cukup...” aku berbicara lirih kepada diriku sendiri dan bergegas kembali ketempat para teman clubku tidur, di tengah perjalanan aku sempat menemukan beberapa buah tomat yang tumbuh liar dan memetik beberapa darinya. Dengan segera aku membuat api kecil dari percikan bunga api yang kubuat dari gesekan battrei senterku dan memasak beberapa barang temuanku menggunakan panci dan beberapa bumbu yang berhasil selamat dari tindihan pohon bersama sisa air mineral Ricchi

“hem.. bau apa ini...” sepertinya satu dari temanku terbangun karena mencium bau sup yang baru saja aku buat

“Oh pagi hana” kataku datar dengan terus mengaduk sup-entahlah di depanku menggunakan sebatang kayu

“Pagi..huamm.... Mac....” katanya dengan mengucek mata, masih diiringi dengan suara dengkuran keras Orville

“Mmm.. pa..gi~” diikuti sapaan khas Rose menyahuti suara Hana memecah hening pagi

“pagi rose”

“Apa yang kamu lakukan Mac?” Hana bertanya sambil berjalan mndekatiku

“Sesuatu” jawabku singkat dan datar, sementara tanganku terus mengaduk 'sesuatu' yang berada di depanku. “Bangunkan yang lain, sup ini sebentar lagi matang”

“Em baiklah” Balasnya singkat, tepat bersamaan dengan mengecilnya api yang aku gunakan untuk memasak karena kehabisan kayu untuk dilahapnya

“Ok sudah matang” kataku lirih, lalu menuang sedikit ke sebuah gelas aluminium

“Sudah matang?”

“Sudah bu, kalo ibu mau makan, silahkan ambil sendiri”

“Oke!” Bu Eri berjingkrak seperti anak kecil mendekati panci sup diikuti Hana da Rose lalu Ricchie dan Orville

“Selamat makan” Orville beteriak lantang ketika hendak menyantap sup-tomat-entahlah yang berada di depannya.

“Yuck!” Ricchi meyemburkan sup yang baru saja masuk ke mulutnya segera setelah sendok masuk ke mulutnya “sup apa ini, rasaya aneh”

“Uweee~” Rose bergidik setelah mencicipi sup buatanku yang terhidang di mangkuknya

“Ayolah sup buatanku tidak separah itu kan?”

“Tidak enak, dimana kamu belajar memasak Mac?” Bu Eri juga ikut-ikutan mengkritik masakanku

“Setidaknya sup ini masih bisa dimakan, meski rasanya...emm... unik...”Hana mencoba membelaku

“....Trims hana...” kataku lirih dengan tangisan hati, melihat Hana memakan sup buatanku dengan wajah penuh derita, seakan baru saja dirinya disiksa sipir penjara bawahan Adolf Hitler dengan kumis-pelawak-berselera-rendahya yang aneh

“Memangnya lidahmu mati ya?!” Ricchi menyindirku

“Mungkin saja..? tapi lebih baik daripada tidak bisa melakukan apa-apa!” balasku dengan sindiran dingin

“Kamu nantang berkelahi yah!”

“Boleh”, sedetik kemudian sebuah bogem mendarat di masing-masing kepala kami

“Cukup disitu debat masakan ini”

“Ibu.. Eri...” aku memandang guru wanita perkasa itu sambil mengelus kepalaku yang kesakitan

“Baik bu....” Ricchi melakukan hal yang sama seperti yang barusaja aku lakukan, mengelus kepalanya seakan ada benjolan sebesar kepalan tangan tumbuh disana

“Aku sudah selesai makan bu” Hana berdiri setelah menghabiskan sup dimangkuknya dengan terburu-buru ke belakang seperti hendak muntah

“Oh iya Hana, bisa mengepak isi tasku yang berhamburan?” teriakku kepadanya sebelum dia berlalu dari formasi-makan-melingkar kami, Hana hanya mengangguk kecil

Setelah sup dimangkukku habis aku beranjak dari formasi-makan-melingkar dan menuju tas puggungku tergeletak, disana aku melihat Hana mencoba mengikatkan sabuk tasku

“Terima kasih sudah membantuku mengepak tas punggungku kembali”

“Tidak apa-apa”

“......” aku terdiam di hadapan teman kecilku itu

“Emm....”

“Ya...?”

“Sepertinya tidak jadi...” sahutnya pelan dengan senyum memaksa menghiasi wajahnya

“Jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja”

“......” Hana terdiam sesaat “Semalam kamu meneriakkan namaku keras sekali...”

“......” aku terdiam mendengarnya

“.....Apa maksudmu huh?”

“Err....aku hanya...”

“Hanya...?”

“Err... makanya.. aku pikir.....” sial aku malu sekali, mungkin wajahku sekarang semerah buah tomat

“.... Batang pohon besar itu menindihku..?” tebak Hana menyambung jawabanku, dan kujawab dengan anggukan kecil

“.......” kami berdua terdiam dengan wajah semerah tomat masak

“Jadi kamu menghawatirkanku..Macclyne...?”

Kujawab pertanyaan lirihnya dengan anggukan pelan, ahh.. jika kucelupkan wajahku ke sekolam air pasti airnya akan segera menguap “Ww...wajar saja kan....”

“Maksudmu...?”

“Kamu adalah teman dekatku sejak kecil, jadi sewajarnya aku menghawatirkanmu” ahhh... wajahku panas sekali otot pipiku serasa tertarik terus

“Terima kasih...”

“Eh....?”

“Seperti dua tahun yang lalu ya...”

“Dua tahun yang.. lalu..?”

“Iya.. saat kamu menc....”

“Jangan teruskan... aku tidak ingin mengingatnya lagi...” memndadak kemarahan meliputi otakku, membayangkan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu

“Maaf Mac...”

“Jangan pernah membawa masalah itu kembali” sahutku dingin

“Tapi.. Mac... aku benar-benar....”

“HANA!!...” aku berteriak didepannya “...tolong...”

“...Bbbb...baiklah.... jika itu keinginanmu Mac...”


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” mendadak Orville muncul di tengah-tengah kami

“Wuaa...” teriakku panik

“Aa..Appa..apa yang kamu lakukan disini Orville?”

“Eh..? aku?” katanya dengan menuding hidungnya sendiri dengan telunjuknya, aku dan Hana mengangguk kecil

“Karena aku sudah selesai menghabiskan sup 'aneh' buatanmu, Ibu Eri memintaku membangunkan Ann, sesaat kemudian aku melihat kalian berdua seperti berbicara serius”

“Oh.. tidak ada apa-apa kok, iya kan Mac?!” Ana memandangku dengan mengkerdipkan sebelah matanya cepat “Kalau begitu biar aku saja yang membangunkan Ann”

“Bagus deh kalau begitu” kemudian Orville tertawa pergi diiringi dengus berat nafas yang kukeluarkan dari mulutku


“Lama sekali Hana membangunkan Ann..” aku berbicara sendiri begitu melihat jarum jamku menunjukkan lima menit setelah Hana pergi meninggalkanku berdua dengan Orville yang kemudian juga meninggalkanku bersama tas punggungku, apakah sangat susah sekali membangunkan seorang cewek yang tertidur, pikirku sambil berjalan kearah kawasan tempat kami terpaksa-tidur tadi malam

“Ann...” Hana menggoncang-goncangkan badan Ann dengan kuat, tapi gadis dedepannya masih saja tetap tidak membuka matanya

“Memangnya menbangunkan Ann itu susah sekali yah?”

“Mac... Ann tidak mau bangun” dari wajahnya tergambar kepanikan yang luar biasa, seperti hendak menangis “sepertinya dia sakit”

Aku tertawa mendengarnya “mungkin Ann minta dibangunkan dengan cara yang halus” aku mendekati tubuh Ann dan memegang lengan Ann, tunggu... ada yang salah... tangan Ann sangat dingin

“Bagaimana Mac?” Hana berdiri di belakangku dengan cemas

“Kamu benar, sepertinya dia sakit” aku melihat Hana mulai panik “cepat panggil Bu Eri”

“Bb..bbaik..” jawab Hana segera, kemudian berlari menghilang dibalik jalan setapak diantara semak

“Ann..” aku melakukan hal yang sama seperti yang tadi Hana lakukan, tangannya dingin seakan panas tubuh meninggalkan badannya untuk pergi tamasya ke keningnya, aku menggosok-gosok tangannya dengan kedua telapak tanganku berharap, sebagian panas badanku bisa menghangatkan tangannya yang dingin

Sementara panas di keningnya tidak berkurang juga, aku mengeluarkan botol minum kecil dari saku celana, dan membasahi handuk kecil milikku dengan air di dalamnya kemudian meletakkannya di kening Ann, mungkin bisa membantu sedikit mengurangi panasnya

Kemudian Bu Eri datang bersama temanku yang lain

“Bagaimana keadaannya Mac?”Ibu Eri bertanya kepadaku

“Entahlah bu, sepertinya dia demam” jawabku sekenanya

“Kita harus segera mencari pemukiman penduduk untuk meminta pertolongan”

“Oh iya, tempelkan ini di kening Ann~” Rose menyodorkan sesuatu

“Apa ini?” Tanyaku ssambil menempelkan plester pemberian Rose ke kening Ann seperti perintahnya

“Plester untuk kompres~” katanya pelan dengan senyum diwajahnya “Ibu Rose selalu menyuruh rose untuk selalu membawa peralatan P3K kemana saja Rose pergi~”

“Ayo kita pergi! Mac, kamu gendong Ann sementara Ricchi membawa tas Ann”

“Kenapa harus saya Bu Eri?” Ricchi mencoba protes mendengar perintah Ibu Eri

“Mana rasa kerjasama timmu Ricchi?”

“Baiklah..”


Kami meninggalkan area lapangan menuju sebuah jalan yang sepertinya, akan menuju ke daerah pemukiman penduduk
Log 002. Dream or...

Kami menuruni bukit atau apalah itu, tempat kami mendirikan dome melewati setapak penuh tanaman liar menuju tempat seperti lahan pertanian yang Hana ceritakan sebelumnya. Setelah menempuh perjalanan bersama yang cukup tidak nyaman karena pertengkaran Orville dan Ann karena hal yang tidak jelas kami sampai di sebuah lahan tanpa adanya pepohonan, benar-benar lapangan terbuka
“Sudah sampai bu, inilah tempatnya”
“Hem... aneh..”
“Aneh kenapa bu Eri?”
“Seingat ibu, ibu sudah menjelajahi daerah sekitar dome tapi tidak terlihat adanya tempat seperti ini”
“Ibu pasti belum mencari sampai kemari”
“Mungkin saja, tapi...”
“Tapi apa bu Eri~?”
“Tidak.. tidak ada apa-apa kok Rose..” Ibu Eri tersenyum seolah berusaha menyingkirkan rasa khawatir dari muka-muka khawatir yang berada di depannya, “ok... kalian bisa melanjutkan istirahat kalian di sini, sementara ibu berjaga-jaga”
“Eh?!? tidur di sini?? tanpa alas??” Ricchie protes mendengar perintah bu Eri
“KAMU PROTESS ?!!”
“Ttt..tidak bu...”
Melihat wajah bu Eri saat itu, sama takutnya dengan berdiri di depan harimau kalimantan yang kelaparan dan siap menyantapmu seperti sushi, dan tak berapa lama dengkuran pun mengalun dari mulut Orville yang tertidur diikuti mata terpejam temanku yang lain.
Aku berusaha memejamkan mata dan tertidur, akan tetapi tetap saja aku terjaga, apalagi di tambah mengingat beberapa kejadian yang baru saja aku alami, membuatku semakin tidak bisa memejamkan mata.

“Mac, kamu masih terbangun kan?” sepertinya bu Eri tahu kalau aku hanya berpura-pura memejamkan mata
“Ada apa bu?”
“Tidak ada apa-apa....”
“.....” kami berdua terdiam
“...Bu Eri...”
“Ada apa Mac?”
“Bu Eri tadi sepertinya hendak mengatakan sesuatu...”
“Apa maksudmu?”
“Mengenai penjelajahan rahasia yang ibu lakukan seorang diri saat kami mendirikan dome”
“.....” Bu Eri hanya terdiam
“..Bu Eri...”
“..Baiklah akan ibu ceritakan... tapi rahasiakan dari yang lainnya..” Akhirnya bu Eri membuka mulutnya setelah terdiam beberapa saat, “kamu tahu Mac..? sebenarnya ibu sudah merasa merasa aneh mengenai jalan setapak yang baru saja kita lewati...”
“Memangnya kenapa bu??”
“....Sore saat ibu berkeliling mencoba melihat-lihat keadaan, jalan itu tidak ada....mmm.... maksud ibu.. ibu tidak melihat adanya jalan itu saat ibu berkeliling, padahal jalan itu ada tidak jauh dari kawasan kita mendirikan dome”
“Ha..?”
“Bahkan saat kita berjalan melewatinya ibu merasa diawasi”
“Ah benar juga... itu mengingatkan saya akan sesuatu bu Eri..”
“Saat melewati jalan tersebut saya mendengar suara logam bergesekan.. meski pelan, tapi saya yakin itu adalah suara logam...dan lagi saya menemukan ini..”aku menyerahkan selembar daun ke tangan bu Eri
“Daun???”
“Iya daun... tapi bukan daunnya yang saya maksudkan!!”
“Memangnya ada apa dengan daun ini?”
“Coba ibu raba sekitar daun itu”
Bu Eri melakukan seperti apa yang aku katakan “serbuk??”
“Bukan serbuk biasa” aku mengambil senter kecil yang ada di saku celanaku “lihatlah lebih jelas bu Eri”
“Eh... ini seperti...”
“..Karat logam...”
“Bagaimana serbuk karat logam bisa berada di daun??”
“Saya sendiri bingung.... dan dari sepengetahuan saya, hampir semua daun di jalan setapak tadi seperti ini..”
“Oh iya... omong-omong... ini daun apa??”
“Loh bukannya anda yang lebih tau?? anda kan seorang guru”
“Guru bukan ensiklopedia MAC!!” sebuah bogem mendarat di atas kepalaku
“Ouch..!” aku mengelus kepalaku “Entahlah, saya belum pernah melihat daun seperti ini sebelumnya”
“Ibu juga belum pernah melihatnya, bahkan dari semua buku yang pernah ibu baca, ibu belum pernah melihat bentuk daun seperti ini”
“.....” kemudian kami terdiam lagi
“Sepertinya pagi sudah menjelang tiba” Bu Eri mencoba memcah keheningan setelah melihat jarum jam jam di arlojinya “ada baiknya kamu juga tidur seperti yang lainnya “setidaknya dengan beristirahat kamu bisa melepas lelah setelah kejadian tadi”
“Sama dengan ibu kan?!?”
“Tapi ibu masih punya kewajiban untuk berjaga-jaga selama kalian tidur”
“Hem...”
“Sudahlah cepat tidur Mac..”
“Baiklah... jika ibu memaksa...”, aku mencoba memejamkan mata, berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi tapi yang terjadi malah sebaliknya, “mungkin berdoa bisa membantu” gumanku lirih, benar juga setelah berdoa mataku semakin berat... berat...

“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Siapa itu!”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Siapa kamu?”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Dimana kamu?”
“Mati? Mati! Ajal?”
“Hey apa maksudmu?!”
“.....”
“Tolong...aku...tidak...”
“Woey!!!”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu”

di depanku berdiri seorang gadis kecil yang memeluk erat boneka di dadanya

Lalu didepanku terlihat seorang anak perempuan kecil membawa boneka berdiri di balik kabut, entah apakah itu benar-benar kabut... dia menangis... dan berusaha mengatakan sesuatu... aku tidak bisa mendengarnya... “apa yang ingin kamu katakan” gadis itu tetap menangis dan berusaha mengutarakan maksudnya kepadaku.. tapi tetap saja hanya keheningan yang aku dapat lalu mendadak aku berada di tengah sebuah desa dengan rumah berhias kobar api menjilat-genit seluruh bangunan di sana
terlihat bayangan berbentuk manusia berlarian, terdengar jeritan lolongan di sana-sini.. apa ini?
Gadis kecil itu masih tetap ada di sana... menangis...siapapun tolonglah dia... apa ini.. kakiku terasa sangat berat...aku melihat kakiku? Apa ini? Kakiku tidak bisa digerakkan... aku memegang mereka.. keras.. seperti sebuah... logam... apa ini?! Aku berteriak... meminta tolong.... aku merasa tidak berdaya... tapi aku harus tetap berjalan.. aku berusaha menggerakkan kedua kakiku... berhasil... dengan suara berdecit aku mendekati gadis kecil... suara lolongan tangis dan panik tetap membaur menakuti para setan yang mendekat.. “hampir.. sampai..”kataku.. sampai akhirnya kedua kakiku benar-benar tidak bisa di gerakkan.. “Ayolah tinggal sedikit lagi..” tetap saja aku seperti di pasak ditempat, aku melihat ke bawah dan mendapatkan karat yang mengkroposi keduanya.... aaahhh apa ini?!?
aku terjatuh kedepan.. keduanya patah dan mengeluarkan darah segar... sakit..sakit sekali... aku menegadahkan mukaku ke depan... gadis kecil itu tetap terdiam menangis di sana dengan memeluk bonekanya di tengah hiruk pikuk orang yang berlarian, tanpa seorangpun mengetahuinya dengan sibuk berlarian tanpa arah. Aku menggunakan kedua tanganku... menyeret badanku mendekati gadis kecil itu..kemudian semuanya... gelap..dan semakin gelap..hitam..
Sesuatu menggelinding dan menabrak kepalaku... apa itu?
Aku meraba benda itu... seperti sebuah benda berbentuk bulat dan basah.. basah?! Aku melihat tanganku, keduanya berdarah!! tunggu sebentar kedua tanganku tidak terluka. Aku mencoba duduk dengan sisa tenaga yang ada dan sakit yang terus menusuk. Mataku terbelalak melihatnya.. sang gadis kecil dengan tetap memeluk erat bonekanya jatuh tertelungkup dengan kepala terlepas dan berada dipangkuanku terdapat dua garpu jerami dan beberapa parang menancap di punggungnya.. aku berteriak...
Log 001. First Trip Camp


“Apa?! Camp 2 hari ke pantai?!?” aku berteriak memastikan kebenaran berita yang baru saja kudengar
“Iya... memangnya kenapa Mac... ?”
“Untuk apa club astronomi melakukan perjalanan camp?! Dan lagi campnya di sebuah pantai”
“Tidak apa-apa kan? Anggap saja refreshing, mungkin saja di sana kita bisa menemukan bintang baru”
“Tapi.....”
Sebuah van putih dengan beberapa koper di atapnya berhenti tepat didepan kami
“Sudahlah Hana, seret saja Mac masuk kedalam van”
“Ibu Eri!”
“Benar benar!!”
“Perlu bantuan tenaga untuk menyeretnya masuk kedalam Hana?”
“Rose, suka bertamasya~”
“Eh.. kalian jadi berangkat sekarang?”
“Tentu saja, itulah kenapa kami ke rumah Mac”
“Rose tahu kalo Hana pasti akan memaksa Mac ikut tamasya yaa~”
“Ehh.. tapi aku...”
“Sudahlah kamu masuk saja!!” Ricchie dan Orville mengangkat badanku seperti seonggok karung beras dan melemparkanku kebagian belakang van
“Pencu..mmmf....”
“Maaf yah tapi untuk sementara kamu harus DIAM!”
“Mmmmff..mmfffff......mmmmm...” aku meronta tapi tumpukan tas diatas badanku membuatku tak bisa bergerak sampai akhirnya aku tertidur”

*****

Aku membuka mataku, badanku masih susah digerakkan akibat tumpukan tas di atas badanku, aku berusaha meronta dan melepas lakban di mulutku. Deru mesin berhenti dan terdengar suara beberapa teman 'penculik'ku dari luar van
“Bagaimana ini, masa keempat bannya meletus”
“Itulah, ibu sendiri juga tidak mengerti, bahkan sekarang mesinnya ngadat”
“Bensin juga sepertinya menipis bu”
“Sungguh kejadian yang cukup aneh”
“Benar-benar”
“bu Eri... Rose takut~”
“Hari juga semakin gelap, untuk sementara kita berkemah di sekitar sini saja”
“Masa kemah di hutan sih”
“Jangan banyak omong, Ricchie, Orville, dan kamu Mac!! Ibu tahu kamu sudah bangun!!”
Aku merangkak keluar dari van “ada apa bu Eri?”
“Ambil beberapa peralatan kemping di mobil, kita berkemah di hutan!!”
“Ehhh!!!” aku dan kelima temanku serempak protes
“KERJAKANNNN!!”
“Bbbaik...bbbuuuu.....”
Aku mengangkat sebuah tas berisi dome untuk 3 orang seorang diri dan mulai berjalan mengikuti rombongan
“bu Eri... ibu tahu jalan di sini?”
“Memangnya kenapa An?”
“Ibu Eri berjalan seakan sudah mengenal jalan di hutan ini”
“Kamu bercanda?!? bahkan membayangkan saja ibu tidak pernah” Sambil menyeka keringat di dahinya dengan saputangan berwarna cream.
Kami terus berjalan hingga sampai di suatu daerah yang sedikit lapang dan minim pohon, “Oke Mac dan Orville, turunkan bawaan kalian”
“Seharusnya ibu menyuruh kami berhenti membawa ini sejak 15 menit yang lalu, lihat bu rasanya punggung saya sedikit sakit menahan bawaan yang berat” sungut Orville kesal
“Jangan protes!” jawab bu Eri dingin disahuti tawa keempat teman yang lain, sementara aku hanya meletakkan bawaanku sambil menghela nafas berat
“Kamu tidak apa-apa Mac?” Hana mendekatiku dengan sebotol air mineral
“Hem.. aku hanya capek, itu saja tidak ada yang lain, memangnya kenapa?”
“Maaf sudah memaksamu ikut perjalanan camp ini”
“Sudahah toh, aku di rumah juga tidak melakukan apa-apa” dengan memaksa aku mencoba memunculkan senyum 'paksa' bibirku yang bahkan sudah ikut kehabisan tenaga
“Oh, Syukur deh kalo begitu”
“Orville tidak apa-apa~?” Rose hendak memgelap keringat di dahi Orville dengan wajah cemas
“Sudahlah!! ini bukan apa-apa” dengan cepat Orville menolak kebaikan Rose dengan wajah memerah
“Tttaa..app...ppii....R..r....roose.. kan....”
“Wah... mereka mulai lagi...”
“Sudahlah Orville, jangan membuat Rose menangis lagi”
“Rrr..roo.roosse.. kkaann... hh..hhhaa..nn..nnyya.. “
“Ah Orville membuat Rose menangis lagi..”
“BBAIIKKK...!! SILAHKAN MELAKUKAN YANG KAMU SUKA..!!” teriak Orville keras dengan muka memerah, “dan berhentilah menangis... dasar cengeng..”tambahnya dengan setengah berbisik
“Baik~”
Sementara Ricchie hanya mencibir mereka berdua, aku hanya menghela nafas panjang dan melanjutkan mendirikan dome, dibantu oleh Ann
bu Eri mengeluarkan dua buah lampu darurat dari tasnya “Ini hanya bertahan sekitar semalam saja, lebih dari itu kita terpaksa mencari kayu bakar sebagai penerangan, terlebih lagi sepertinya kita harus mencari pertolongan, jadi dengan kata lain....”
“Kenapa bu?”
“....Kita dalam bahaya,,,,”
“...Bagaimana Ibu bisa menyimpulkan hal tersebut...”
“Oke point pertama, van kita berhenti dengan kondisi yang janggal seperti keempat rodanya meletus, bensin mendekati nol, dan mesin seakan tidak menyala..”
“Lalu? bukannya itu hanya kerusakan mobil biasa?”
“Point Kedua, Bahkan Handphone ibu tidak mendapat sinyal sama sekali, seperti ada sesuatu yang mengganggu sinyal penerimanya..”
“Ibu Erico.. bukannya hal itu memamng wajar jika kita berada di hutan seperti ini??”
“Ini point yang cukup aneh bagi ibu”
“Maksud Ibu Point kedua??”
“bukan.. tapi point ketiga... point terakhir....”
“Apa itu bu??”
“Kita hanya punya sup kaleng untuk makan malam” Aku hanya tertawa datar mendengar lelucon bu Erico yang tidak tepat dengan keadaan saat ini, sementara Hana meledak mengomeli lelucon dingin bu Erico yang konyol?? mungkin??

*****
Malam setelah semua pemasangan dome selesai, kami berkumpul bersama memakan sup kaleng yang sudah dipanaskan dengan kompor gas portabel lalu setelah itu kembali ke dome yang sudah di sepakati untuk tidur, sementara aku tidak bisa memejamkan mataku aku pergi keluar menerjang dingin udara di hutan
Aku melihat Ibu Eri berjalan menjauhi dome wanita dan berkeliling, aku bertanya-tanya dalam hati apa yang hendak beliau lakukan di hutan seperti ini.
Aku mencoba membuntutinya, mengendap-endap dan berusaha menyembunyikan badanku di balik pohon sambil terus membuntuti Ibu Erico, sampai sekitar 10 menit aku membuntuti bu Erico dengan penerangan cahaya bulan hampir-penuh mendadak beliau berhenti, lalu menoleh kekanan-dan kekiri seakan hendak menyebrangi jalan Dipengoro memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya lalu kembali berjalan, sepertinya beliau menyadari jika ada yang mengikutinya, entah karena apa untuk beberapa saat aku merasa cara beliau berjalan begitu cepat dan tenang, bagaimana tidak?! Aku yang sedari tadi mengikutinya dengan setengah berlari sudah merasa payah sekali, sementara beliau terus saja berjalan seakan tidak berjalan melainkan terbang dan lagi untuk apa bu Erico berjalan menuri hutan yang bahkan baru pertama kali ditapakinya dengan memakai kacamata nya yang berwarna merah sampai sampai terlihat matanya menyala merah, tapi tunggu sebentar aku merasa ada yang janggal. Lalu tiba-tiba sebuah tangan menlingkari mulutku, berusaha membuatku bungkam dari kata-kata
“Ssstttt.. diaammm...” aku menoleh kearah belakang dan terbelalak
“bu Eri?!?” setengah berteriak, aku berbisik “bagaimana mungkin?!?”
“Apa maksudmu??”
“Anda bu Eri?? Ibu Erico yang sebenarnya?!?”
“bukan aku hantu! Tentu saja aku Erico guru fisikamu dikelas!! memangnya siapa lagi” dengan khas jitakannya mendarat di kepalaku “Dan lagi apa maksudmu pergi menjauhi dome camp sendirian??”
“Tapi bu...”
“Tapi apa..?!?”
“Saya begini karena mengikuti ibu”
“Haa?! Apa maksudmu?! Ibu dari tadi berada di dalam dome bersama ketiga teman club wanitamu sampai ibu melihat bayangan menjauhi dome dengan suara erangan, dan saat ibu tahu ternyata ibu mengikuti dirimu” dengan wajah berusaha tenang
“Lalu Siapa wanita yang baru saja saya ikuti ini? Jika bukan ibuu?!?”
“Entahlah?? mungkin hantu” katanya dengan seterngah menggoda “lagipula dia barusaja berjalan kembali”
“Ha!?”
“Lihatlah... apapun itu yang sedang kamu buntuti, dia sudah pergi”
“Sial!! ayo bu kita lanjutkan mengejarnya, saya merasa tidak enak dengan hal ini”
“Mungkin juga..”
Entah semenjak tadi ada perasaan aneh menyelimuti hatiku. Aku bergegas mempercepat langkahku bersama Ibu Erico, dengah langkah seminim mungkin bunyi, berusaha berkesan dia tetap berjalan sendiri kami terus mengikuti langkah kakinya sampai dia berhenti lagi
sesaat aku melihat wajahnya menoleh kebelakang, tunggu sebentar!! bagaimana lehernya bisa berputar 180˚ seperti burung hantu?!? tidak ada manusia yang bisa melakukan hal itu
kemudian dia menyeringai dalam gelap dan mata berwarna merah yang seperti darah ditimpa sinar bulan, lalu kabut tebal mendadak muncul menyelimutiku dan bu Erico sesaat lalu kembali memudar bersama Seseorang atau mungkin sesuatu yang baru saja aku ikuti.
“Tungguuuu!! teriakku berlari” tapi dia sudah tidak ada di sana lagi
“Macclyne!! Ayo segera kembali ke kawasan Dome!!”
“Kenapa bu Eri?!?”
“Ibu merasa perasaanmu tadi menjadi kenyataan, ibu merasa khawatir dengan teman-temanmu yang tertidur di dalam dome”
“Ibu benar!!”
Seketika itu juga aku berlari sekuat tenaga mengikuti bu Erico menuju kawasan kami mendirikan dome
“Ibu tahu jalannya?” Sambil terengah-engah aku berusaha bertanya
“Ibu sudah membuat tanda kecil saat mengikutimu tadi”
“BAMM!!” terdengar suara sesuatu yang sangat besar terjatuh dengan keras, sesaat aku dan bu Ericco saling berhenti dan berpandangan dengan raut muka tegang, dan pucat lau berlari kembali.
“....Apa ini...?”Benar saja, sesampainya di sana yang kami lihat sungguh membuatku shock
Dua batang pohon dengan masing masing keliling lebih dari dua lingkaran yang bisa di bentuk dua orang dengan saling bergandeng tangan membentuk sebuah lingkaran jatuh menghantam masing masing dome yang kami buat, Ibu Erico hanya bisa lemas terduduk dan menangis, sementara aku berusaha mendorong pohon konyol yang men'duduki' dome kami
“Ricchie!! Orville!! Oey!!” dengan sekuat tenaga au berusaha mendorong pohon besar itu, meskipun hasilnya nihil tapi aku terus berusaha mendorong agar pohon itu bergeser, sementara dari antara sela pohon merembes cairan, berwarna merah, darah?? mungkin saja, tapi darah siapapun itu aku tidak tahu, yang ada hanya perasaan takut dan binggung. Berganti ke arah dome wanita, aku berusaha mendorong pohon yang roboh menindih dome mereka
Panik aku terus memanggil nama mereka “Rose!! Ann!!”
sementara isak tangis Ibu Erico semakin terdengar dalam gelap hutan yang hanya diterangi cahaya bulan
“Sudahlah Mac... mereka sudah...”
“Belum bu!! aku yakin mereka masih selamat”
“Tapi Mac... tidak mungkin...”
“Masih belum bu Eri... masih belum...” aku terus berusaha mendorong pohon”
“Macclyne...!!!..... sudah...cukup....”
“..Tapi bu Eri...”
“... Sudah... cukup...”
Aku hanya bisa terdiam membisu melihat bongkah kayu batang di depanku dengan kesal dan mengumpat dalam hati 'sial!! sial!! sial!! sial!!' terus berulang ulang
lalu teringat satu teman yang slalu dekat denganku, benar ini bukan waktunya meratap, aku kembali mendorong batang pohon besar itu
“Hana..”terus kudorong, tapi nihil..
“Sudahlah Mac... hana juga bersama mereka...”
“Masih belum bu..!! hana pasti masih...”
“MACCLYNE..!!!” teriakan bu Eri memecah malam di hutan, membuatku menghentikan perbuatanku dengan terisak, aku menendang bongkahan batang pohon tumbang didepaku
“SIIAAALLLL... KAU.... HANAAAAAA...!!!” teriakku keras, lalu sebuah kaleng sup mendarat di belakang kepalaku dengan halus sehingga membuatnya berbunyi merdu 'klong'
“Apa maksudmu sial kau hana?!”
Aku menoleh kearah belakangku bersama-sama dengan bu Eri
“..Ha..na..?”
“Iya ini aku, apa maksudmu mengumpat aku huh?!”
Bu Erico mengenhtikan tangisnya “kamu selamat?”
“Bukan hanya saya bu, yang lainnya juga selamat kok”
“Tapi... saat aku pergi...”
“Justru kamilah yang cemas, saat tahu kamu dan bu Eri menghilang bersama...”Hana memotong perkataanku
“... Dan jangan membunuh orang seenakmu saja Mac, tidak mungkin Ricchie ini mati begitu saja”
“Ibu Eri tadi kemana~? Rose takut bu~”
“....” aku dan bu Eri hanya diam melihat semua temanku selamat. Antara gembira dan takjub bergabung menjadi satu
“Kalian selamat....”
“Brengsek.. apa maksudmu aku sudah mati”Orville sudah mengepalkan tinjunya geram
“Tapi..tapi...”
“Bukankah kalian tadi ada di dalam tenda?” tanya bu Erico
“Benar sekali, itulah yang membuat kami sendiri heran” hana sedikit memiringkan kepalanya
“Apa maksudmu hana..?!”
“Saat terbangun aku berada di lahan kosong seperti sebuah pertanian bersama keempat teman lainnya, lalu terdengar bunyi 'BAMM' dari arah atasku”
“Setelah itu Hana berusaha membangunkan semua orang termasuk Rose~”
“Dan menendang perutku bedebah” Orville mengepalkan tinjunya lebih erat lagi
“Itu bukannya karena kamu tidak bisa bangun dengan cara biasa kan?” Melanie berusaha membela Hana
“Diam kau Ann” diikuti tawa pelan Rose dan Ricchie
“... Setelah semuanya bangun kami diajaknya berlari menuju arah ini...”
“Lalu inilah yang kami lihat saat ini..”
Kami semua membisu
“Oke saat ini itu tidak penting, yang penting kalian semua selamat”
“Benarr.. itu yang terpenting!”
“Lebih baik sekarang kita mencoba mengambil barang yang masih bisa diselamatkan dari dome masing-masing”
“Tapi bukannya batang ini berat?”
“Kita dorong bersama”
“Oke hitungan ketiga”
“TIGAA!!!” dengan sekuat tenaga kami bertujuh mendorong bongkahan kayu tumbang dari atas dome para wanita dan hanya bisa menggeser sekitar 10 centimeter dari tempatnya semula setidaknya cukup besar untuk menarik tas-tas yang berada di dalam dome, hal serupa kami lakukan pada bongkahan kayu lainnya yang berada di atas dome Pria walau hasilnya nihil yang membuat kami terpaksa menyayat satu bagian dari dome untuk mengeluarkan tas-tas.
“Untuk lebih aman, kita berjalan bersama menuju tempat yang tadi kau ceritakan Hana”
“Eh... maksud Ibu Eri dataran yang seperti lahan pertanian itu?!?”
“Benar!! dan sebagai pengaman tambahan, kita berjalan dengan saling menggandeng tangan”
“Ehh?!? menggandeng tangan wanita!! tidak!!” Orville protes, tapi setelah melihat wajah bu Eri dan Rose akhirnya dia mau melakukanya. Aku berada di ujung akhir gandengan bersama bu Erico
“Ibu tidak menceritakan mengenai apa yang kita lihat kepada mereka, bu?” setengah berbisik aku bertanya
“Agar tidak memperumit masalah, sebaiknya masalah ini kita simpan saja sendiri”
“Benar juga.. jika mereka sampai tahu.. bisa saja mereka panik dan memperburuk masalah”
“Kalau benar kata Hana, berarti kita dekat dengan pemukiman penduduk semoga saja kita bisa memita bantuan kepada orang-orang dari kota untuk menjemput kita di sini”
“Semoga saja itu benar bu Eri...”