Log 002. Dream or...

Kami menuruni bukit atau apalah itu, tempat kami mendirikan dome melewati setapak penuh tanaman liar menuju tempat seperti lahan pertanian yang Hana ceritakan sebelumnya. Setelah menempuh perjalanan bersama yang cukup tidak nyaman karena pertengkaran Orville dan Ann karena hal yang tidak jelas kami sampai di sebuah lahan tanpa adanya pepohonan, benar-benar lapangan terbuka
“Sudah sampai bu, inilah tempatnya”
“Hem... aneh..”
“Aneh kenapa bu Eri?”
“Seingat ibu, ibu sudah menjelajahi daerah sekitar dome tapi tidak terlihat adanya tempat seperti ini”
“Ibu pasti belum mencari sampai kemari”
“Mungkin saja, tapi...”
“Tapi apa bu Eri~?”
“Tidak.. tidak ada apa-apa kok Rose..” Ibu Eri tersenyum seolah berusaha menyingkirkan rasa khawatir dari muka-muka khawatir yang berada di depannya, “ok... kalian bisa melanjutkan istirahat kalian di sini, sementara ibu berjaga-jaga”
“Eh?!? tidur di sini?? tanpa alas??” Ricchie protes mendengar perintah bu Eri
“KAMU PROTESS ?!!”
“Ttt..tidak bu...”
Melihat wajah bu Eri saat itu, sama takutnya dengan berdiri di depan harimau kalimantan yang kelaparan dan siap menyantapmu seperti sushi, dan tak berapa lama dengkuran pun mengalun dari mulut Orville yang tertidur diikuti mata terpejam temanku yang lain.
Aku berusaha memejamkan mata dan tertidur, akan tetapi tetap saja aku terjaga, apalagi di tambah mengingat beberapa kejadian yang baru saja aku alami, membuatku semakin tidak bisa memejamkan mata.

“Mac, kamu masih terbangun kan?” sepertinya bu Eri tahu kalau aku hanya berpura-pura memejamkan mata
“Ada apa bu?”
“Tidak ada apa-apa....”
“.....” kami berdua terdiam
“...Bu Eri...”
“Ada apa Mac?”
“Bu Eri tadi sepertinya hendak mengatakan sesuatu...”
“Apa maksudmu?”
“Mengenai penjelajahan rahasia yang ibu lakukan seorang diri saat kami mendirikan dome”
“.....” Bu Eri hanya terdiam
“..Bu Eri...”
“..Baiklah akan ibu ceritakan... tapi rahasiakan dari yang lainnya..” Akhirnya bu Eri membuka mulutnya setelah terdiam beberapa saat, “kamu tahu Mac..? sebenarnya ibu sudah merasa merasa aneh mengenai jalan setapak yang baru saja kita lewati...”
“Memangnya kenapa bu??”
“....Sore saat ibu berkeliling mencoba melihat-lihat keadaan, jalan itu tidak ada....mmm.... maksud ibu.. ibu tidak melihat adanya jalan itu saat ibu berkeliling, padahal jalan itu ada tidak jauh dari kawasan kita mendirikan dome”
“Ha..?”
“Bahkan saat kita berjalan melewatinya ibu merasa diawasi”
“Ah benar juga... itu mengingatkan saya akan sesuatu bu Eri..”
“Saat melewati jalan tersebut saya mendengar suara logam bergesekan.. meski pelan, tapi saya yakin itu adalah suara logam...dan lagi saya menemukan ini..”aku menyerahkan selembar daun ke tangan bu Eri
“Daun???”
“Iya daun... tapi bukan daunnya yang saya maksudkan!!”
“Memangnya ada apa dengan daun ini?”
“Coba ibu raba sekitar daun itu”
Bu Eri melakukan seperti apa yang aku katakan “serbuk??”
“Bukan serbuk biasa” aku mengambil senter kecil yang ada di saku celanaku “lihatlah lebih jelas bu Eri”
“Eh... ini seperti...”
“..Karat logam...”
“Bagaimana serbuk karat logam bisa berada di daun??”
“Saya sendiri bingung.... dan dari sepengetahuan saya, hampir semua daun di jalan setapak tadi seperti ini..”
“Oh iya... omong-omong... ini daun apa??”
“Loh bukannya anda yang lebih tau?? anda kan seorang guru”
“Guru bukan ensiklopedia MAC!!” sebuah bogem mendarat di atas kepalaku
“Ouch..!” aku mengelus kepalaku “Entahlah, saya belum pernah melihat daun seperti ini sebelumnya”
“Ibu juga belum pernah melihatnya, bahkan dari semua buku yang pernah ibu baca, ibu belum pernah melihat bentuk daun seperti ini”
“.....” kemudian kami terdiam lagi
“Sepertinya pagi sudah menjelang tiba” Bu Eri mencoba memcah keheningan setelah melihat jarum jam jam di arlojinya “ada baiknya kamu juga tidur seperti yang lainnya “setidaknya dengan beristirahat kamu bisa melepas lelah setelah kejadian tadi”
“Sama dengan ibu kan?!?”
“Tapi ibu masih punya kewajiban untuk berjaga-jaga selama kalian tidur”
“Hem...”
“Sudahlah cepat tidur Mac..”
“Baiklah... jika ibu memaksa...”, aku mencoba memejamkan mata, berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi tapi yang terjadi malah sebaliknya, “mungkin berdoa bisa membantu” gumanku lirih, benar juga setelah berdoa mataku semakin berat... berat...

“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Siapa itu!”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Siapa kamu?”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu”
“Dimana kamu?”
“Mati? Mati! Ajal?”
“Hey apa maksudmu?!”
“.....”
“Tolong...aku...tidak...”
“Woey!!!”
“Cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu” “cepat pergi! Ini bukan tempatmu”

di depanku berdiri seorang gadis kecil yang memeluk erat boneka di dadanya

Lalu didepanku terlihat seorang anak perempuan kecil membawa boneka berdiri di balik kabut, entah apakah itu benar-benar kabut... dia menangis... dan berusaha mengatakan sesuatu... aku tidak bisa mendengarnya... “apa yang ingin kamu katakan” gadis itu tetap menangis dan berusaha mengutarakan maksudnya kepadaku.. tapi tetap saja hanya keheningan yang aku dapat lalu mendadak aku berada di tengah sebuah desa dengan rumah berhias kobar api menjilat-genit seluruh bangunan di sana
terlihat bayangan berbentuk manusia berlarian, terdengar jeritan lolongan di sana-sini.. apa ini?
Gadis kecil itu masih tetap ada di sana... menangis...siapapun tolonglah dia... apa ini.. kakiku terasa sangat berat...aku melihat kakiku? Apa ini? Kakiku tidak bisa digerakkan... aku memegang mereka.. keras.. seperti sebuah... logam... apa ini?! Aku berteriak... meminta tolong.... aku merasa tidak berdaya... tapi aku harus tetap berjalan.. aku berusaha menggerakkan kedua kakiku... berhasil... dengan suara berdecit aku mendekati gadis kecil... suara lolongan tangis dan panik tetap membaur menakuti para setan yang mendekat.. “hampir.. sampai..”kataku.. sampai akhirnya kedua kakiku benar-benar tidak bisa di gerakkan.. “Ayolah tinggal sedikit lagi..” tetap saja aku seperti di pasak ditempat, aku melihat ke bawah dan mendapatkan karat yang mengkroposi keduanya.... aaahhh apa ini?!?
aku terjatuh kedepan.. keduanya patah dan mengeluarkan darah segar... sakit..sakit sekali... aku menegadahkan mukaku ke depan... gadis kecil itu tetap terdiam menangis di sana dengan memeluk bonekanya di tengah hiruk pikuk orang yang berlarian, tanpa seorangpun mengetahuinya dengan sibuk berlarian tanpa arah. Aku menggunakan kedua tanganku... menyeret badanku mendekati gadis kecil itu..kemudian semuanya... gelap..dan semakin gelap..hitam..
Sesuatu menggelinding dan menabrak kepalaku... apa itu?
Aku meraba benda itu... seperti sebuah benda berbentuk bulat dan basah.. basah?! Aku melihat tanganku, keduanya berdarah!! tunggu sebentar kedua tanganku tidak terluka. Aku mencoba duduk dengan sisa tenaga yang ada dan sakit yang terus menusuk. Mataku terbelalak melihatnya.. sang gadis kecil dengan tetap memeluk erat bonekanya jatuh tertelungkup dengan kepala terlepas dan berada dipangkuanku terdapat dua garpu jerami dan beberapa parang menancap di punggungnya.. aku berteriak...